Dibalik kelezatan se’i, hidangan daging asap khas Nusa Tenggara Timur, tersimpan kisah menarik yang berakar dari bahasa Rote. Nama “se’i” bukan sekadar sebutan, melainkan cerminan dari proses pembuatannya. Ini adalah salah satu contoh bagaimana bahasa daerah menyimpan kekayaan budaya dan tradisi kuliner.
Secara harfiah, “se’i” dalam bahasa Rote berarti “daging yang diiris tipis-tipis memanjang”. Penamaan ini sangat tepat, karena proses pembuatan se’i memang dimulai dengan mengiris daging tipis. Irisan ini membedakan se’i dari daging asap lainnya, memungkinkan bumbu meresap dan matang sempurna.
Tradisi mengiris daging tipis ini diturunkan dari leluhur. Tujuannya adalah untuk mengawetkan daging. Di zaman dahulu, ketika tidak ada lemari es, mengiris daging tipis dan mengasapnya adalah cara efektif untuk menjaga daging agar tidak cepat busuk.
Selain itu, bahasa Rote juga memiliki makna yang lebih dalam. Kata “se’i” juga bisa diartikan sebagai “daging yang dikeringkan dengan asap”. Ini merujuk pada proses pengasapan yang panjang. Proses ini tidak hanya mengawetkan, tetapi juga memberikan aroma khas yang unik.
Penggunaan bara kayu khusus seperti kayu kosambi atau kayu merah juga merupakan bagian tak terpisahkan dari tradisi ini. Jenis kayu ini menghasilkan asap harum yang meresap ke dalam daging, menciptakan cita rasa otentik yang tak tertandingi.
Kisah di balik nama ini menunjukkan bahwa bahasa Rote dan tradisi kuliner sangat erat kaitannya. Nama se’i adalah pengingat akan asal-usulnya, yaitu cara memasak yang bijak dan sesuai dengan kondisi alam setempat.
Meskipun kini se’i telah menjadi hidangan populer di seluruh Indonesia, esensi dari namanya tidak berubah. Nama “se’i” membawa serta cerita tentang ketahanan, kearifan lokal, dan hubungan harmonis antara manusia dan alam.
Melalui nama “se’i” ini, kita tidak hanya menikmati hidangan lezat. Kita juga diajak untuk menghargai kebudayaan yang ada di baliknya. Ini adalah cara untuk menghormati warisan kuliner Indonesia yang sangat kaya.
Bagi masyarakat Rote, se’i lebih dari sekadar makanan. Ini adalah bagian dari identitas mereka, lambang kebersamaan, dan perayaan. Hidangan ini sering disajikan pada acara-acara khusus, mempererat tali silaturahmi.